Essay Lolos OGN 2019, Jalan-jalan gratis ke Jakarta Guys.
Assalamualaikum teman-teman,
aku mau share tulisanku yang udah pernah lolos ke tingkat nasional ya.
waktu itu ada ajang yang bernama Olimpiade Guru Nasional (OGN) yang diselenggarakan oleh kemendikbud pada tahun 2019.
Nah bagaimana perjuangannya hingga saya lolos ke tingkat nasional, akan saya ceritkan di episode selanjutnya ya.
Dibawah ini adalah tulisanku Essay ku yang sudah lolos ke tingkat nasional, selamat membaca teman-teman.😇
Abad 21, Saatnya Menjadi Guru Pendidikan Dasar Unggul dan Profesional
Memasuki abad 21, pemerintah Indonesia
sedang gencar-gencarnya menyerukan perubahan pola pendidikan di Negara kita.
Era yang mengutamakan teknologi sebagai garda terdepan ciri abad ini hadir di
tengah-tengah masyarakat. Segala hal dikaitkan dengan sistem komputasi, untuk
memudahkan manusia mengakses informasi apa saja yang diperlukan. Bisa kita
lihat bahwa dalam kurun waktu 21 tahun terakhir ini dunia pendidikan sudah mulai
bergeser menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media utama
dalam pembelajaran dan sistem administrasi pendidikan. Ciri lain dari abad 21 adalah mudahnya semua
orang berkomunikasi dengan warga negara lain di berbagai belahan dunia. Mereka
bertukar gagasan baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Jadi
bukan hal yang mustahil jika orang asing akan bebas bersaing dengan masyarakat
yang ada di negara kita. Dan ini akan menjadi masalah besar yang harus segera
diatasi.
Sistem
informasi yang bergitu cepat telah mengubah pola hidup masyarakat kita. Sudah
tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang yang menggantungkan kehidupan
sehari-harinya lewat teknologi. Karena teknologi membuat pekerjaan manusia
menjadi efektif dan efisien. Melihat hal tersebut diatas, dunia pendidikan
harus tampil menjadi basis utama dalam menyiapkan segala hal yang diperlukan
untuk memasuki abad 21. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui
peningkatan kualitas guru. Karena ia dianggap sebagai ujung tombak atas
kemajuan bangsa di masing-masing satuan pendidikan. Dia berperan sebagai garda
terdepan yang siap mengantarkan para putra-putri penerus generasi bangsa
menjadi apapun yang mereka cita-citakan. Agen perubahan sangatlah tepat sebagai
julukannya, karena memang dengan kehadirannya perubahan-perubahan bisa
terlihat, baik dari segi karakter, keterampilan, pengetahuan seorang peserta
didik yang awalnya tidak tahu atau belum paham berubah menjadi sebaliknya.
Menjadi
guru pendidikan dasar abad 21 bukanlah hal mudah untuk dilakukan. Banyak
tantangan yang harus dihadapi oleh guru di era abad 21 ini. Beberapa
diantaranya adalah, guru harus mampu menghadapi peserta didik millenials, orang
tua millenials, tuntutan masyarakat terhadap dunia pendidikan agar menjadi lembaga
yang mampu mencetak generasi yang unggul di abad 21, dan mampu menguasai
teknologi informasi dan komunikasi yang menjadi ciri abad ini.
Kata
millenials mungkin sudah tidak asing ditelinga kita akhir-akhir ini. Kata ini
dikaitkan dengan anak-anak yang lahir pada rentan tahun 1980 – 2000. Jadi usia mereka berkisar antara 15 s.d 35
tahun saat ini. Generasi ini lahir dalam kondisi TV sudah berwarna, handphone
sudah menjadi barang kebutuhan kelompok primer, dan internet mudah untuk
diakses dimanapun dan kapanpun. Semua hal tersebut mempengaruhi pola pikir dan
pola hidup mereka di lingkungan masyarakat. Generasi yang bisa juga di sebut
dengan istilah Gen Y ini memiliki stereotype negatif dimata generasi sebelumnya
yaitu Gen X, yang berarti golongan orang tua kita saat ini. Beberapa hal
diantaranya, generasi ini memiliki sifat pemalas, menyukai hal-hal yang instan,
rasa peduli kepada sesama berkurang, cenderung meninggalkan nilai-nilai agama
dan budaya, hedonisme dan suka bergaya mengikuti trend yang viral.
Merujuk
pada hal diatas, terkait generasi Y atau yang lebih dikenal sebagai generasi
millenials yang sudah hadir di abad 21 ini tentunya menjadi fokus tersendiri
bagi dunia pendidikan terutama untuk guru. Menghadapi generasi yang memiliki
ciri-ciri dan sifat seperti yang telah disebutkan diatas tentu bukanlah hal
yang mudah bagi seorang guru. Untuk itu guru dituntut untuk profesional dan
meningkatkan kemampuannya dalam mendidik di abad ini. Dan ini akan menjadi
tantangan tersendiri bagi seorang guru jika ia tidak mau merubah cara
mengajarnya. Mengingat sebagian besar guru yang ada di sekolah-sekolah ini
masih banyak dari golongan X yang mana mereka lahir pada waktu teknologi belum
secanggih saat generasi Y lahir. Jadi mau tidak mau ia harus mengubah cara mengajar
dan tentunya harus tetap berpegang pada norma-norma yang ada.
Tantangan
yang kedua setelah peserta didik millenials adalah orang tua millenials. Kenapa
saya katakana bahwa orang tua juga menjadi tantangan bagi guru abad ini. Mari
kita ingat kembali ciri-ciri anak
millennial dan itu juga tidak jauh berbeda dengan orang tua millenials. Namun
karena posisinya sekarang sebagai orang tua maka ia menempatan posisi dimana ia
berharap anak-anaknya bisa menjadi seperti yang ia inginkan. Orang tua yang
notebennya tidak punya waktu banyak dirumah karena begitu banyak kegiatan baik
itu pekerjaan atau kesibukan lainnya tentunya mengharapkan seorang guru di
sekolah mampu meluluskan apa yang ia harapkan. Jika tidak berhasil maka akan
menimbulkan ancaman bagi seorang guru pada khusunya dan dunia pendidikan pada
umumnya di mata masyarakat untuk menitipkan putra-putri mereka di satuan
pendidikan teresebut. Nah ancaman tersebut merupakan tantangan lagi bagi
seorang guru. Karena tidak hanya menghadapi sekian puluh atau ratus murid namun
juga harus menghadapi orang tuanya juga lengkap dengan ayah dan ibu mereka.
Maka dari itu kompetensi sosial disini perlu di gali lagi.
Tantangan
yang ke tiga adalah tuntutan masyarakat terhadap dunia pendidikan. Mereka mengharapkan
kualitas pendidkan yang bagus baik itu dari segi fasilitas yang tersedia,
infratrukstur yang memadai dan kualitas guru yang mumpuni bagi putra putri
mereka. Masyarakat di abad ini sudah bisa memilih mana sekolah-sekolah yang
layak untuk ditempati anak-anaknya. Walaupun menteri pendidikan dan kebudayaan
(Mendikbud) bapak Muhadjir Efendi menetapkan bahwa penerimaan peserta didik
baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi sebagimana yang termaktub dalam
Permendikbud No. 51/2018 tentang penerimaan peserta didik baru. Tapi tidak
menutup kemungkinan jika masyarakat tetap ingin memilihkan pendidikan yang
terbaik untuk putra-putri mereka. Dan ini tidak hanya menjadi PR bagi
pemerintah namun juga bagi pelaku yang ada di dunia pendidikan khususnya di
lini terkecil yaitu satuan pendidikan dimana diadalamnya dihuni oleh tenaga
pendidik dalam hal ini adalah guru dan tenaga kependidikan.
Dan
yang terakhir atau yang keempat, tantangan yang harus dihadapi guru abad 21 ini
adalah tentang kemampuannya dalam penguasaan teknologi informasi dan
komunikasi. Saat ini kehadiran internet berpengaruh besar terhadap masyarakat
Indonesia pada khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya. Dalam dunia
pendidikan, tentunya internet dan teknologi lainnya sangat berpengaruh dan
mempunyai peran penting dalam memajukan pendidikan yang ada di dalamnya.
Ditambah, peserta didik millenials yang sudah canggih dalam menggunakan dan
memanfaakan teknologi baik untuk belajar, mencari informasi dan mencari
hiburan. Maka dari itu, guru di tuntut untuk melek teknologi. Jangan sampai ada
yang tidak bisa menggunakan atau memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang
saat ini. Karena ini menentukan apakah ia bisa bertahan atau tidak menjadi
seorang guru di abad 21 ini.
Banyaknya
tantangan yang harus dihadapi oleh guru di abad ini, tentunya banyak hal yang
harus dilakukan agar bisa menjadi guru yang unggul dan professional. Karena
kemajuan suatu negara ditentukan oleh kemajuan pendidikan. Guru merupakan
element terpenting yang ada di dalam dunia pendidikan. Keberhasilan proses
belajar mengajar juga ditentukan oleh kualitas pengetahuan guru. Disamping
kompetensi guru berdasarkan Undang-undang nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan
dosen di pasal 10 ayat (1) yang menyatakan bahwa “Kompetensi guru meliputi
kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan kompetensi sosial”. Kompetensi-kompetensi
tersebut wajib dikuasai oleh masing-masing guru. Namun seiring berkembangnya
jaman yang dipengarhui oleh kemajuan teknologi yang berkembang begitu cepat dan
pesat dan mengakibatkan pola pikir dan gaya hidup manusia juga berubah maka
seorang guru harus memiliki kemampuan tambahan untuk menghadapinya. Ada 7 hal
yang harus dikuasai untuk menjadi guru pendidikan dasar yang unggul di abad 21
ini yaitu guru harus memiliki kemampuan
kritis dan mampu menyelesaikan masalah, kreatif, kolaborasi, komunikasi,
citizenship, digital literacy dan
motivator.
Berpikir
kritis dan mampu menyelesaikan masalah
merupakan salah satu skill yang harus
di kuasai oleh guru pendidikan dasar pada abad 21. Bagaimana tidak, jika yang
dihadapi adalah peserta didik dan orang tua millenials, dimana mereka mampu
mengakses informasi dengan mudah, namun kurang
pandai dalam memilah informasi baik akurat maupun hoax. Mereka cenderung mudah percaya dengan informasi sekali dapat
tanpa mengecek kebenarannya. Krulik dan Rudnik (1993) mendefinisikan berpikir
kritis adalah berpikir yang menguji, menghubungkan , dan mengevaluasi semua
aspek dari situasi masalah. Pernyataan tersebut mendukung bahwa jika seorang
guru sudah mampu berpikir secara kritis maka secara otomatis ia juga mampu
menyelesaikan masalah. Jadi sangat penting dikuasai bagi seorang guru abad 21
ini untuk memiliki kemampuan berpikir secara kritis dan mampu menyelesaikan
masalah.
Kemampuan
ke dua yang harus dimiliki oleh guru pendidikan dasar abad 21 adalah mampu
menjadi guru yang kreatif. Seiring perkembangan jaman yang kian hari semakin
maju dan modern ini, kemudian didukung pula dengan pesatnya kemajuan teknologi.
Maka ini adalah hal yang realistis jika guru dituntut untuk mejadi kreatif.
Pembelajaran model konvensional sudah tidak menarik lagi bagi peserta didik
saat ini. Sehinga guru perlu meningkatkan kemampuannya agar pembelajaran yang di
ampu di dalam kelas bisa menarik dan menyenangkan. Salah satu contohnya mungkin
bisa dengan meningkatkan pembelajarannya dengan menggunakan media pembelajaran
yang menarik. Selain itu guru mampu menggunakan teknik dan metode pembelajaran
yang tepat sehingga peserta didik senang dan semangat dalam kegiatan belajar
dan mengajar di dalam kelas.
Yang
ke tiga, kemampuan berkolaborasi juga harus dimiliki oleh guru jaman
millennial. Ia tidak boleh bekerja secara individu seterusnya. Di abad 21 ini
guru pendidikan dasar harus mampu berkolaborasi dengan siapapun. Baik itu
dengan sesama guru, peserta didik, maupun orang tua wali murid. Jadi kemampuan
bersosialisasi dengan orang lain tidak kalah pentingnya. Mengingat peserta
didik yang hidup di abad ini sudah mulai mengesampingkan kehidupan sosial.
Mereka lebih cenderung suka dengan ponsel pintarnya yang sudah terkoneksi
dengan internet. Sehingga apapapun yang dibutuhkan tersedia dengan cepat. Bagi
mereka gadged dengan segala fitur
yang canggih dan menarik sudah cukup untuk membuat mereka puas. Namun
sebaliknya ini adalah masalah besar yang menjadi tantangan bagi seorang guru
dan harus segera diatasi. Sehingga sebelum menularkan pada peserta didik
tentang kompetensi kolaboratif, seorang guru harus mampu menguasainya terlebih
dahulu.
Selanjutnya,
guru pendidikan dasar di abad 21 ini juga harus memiliki kemampuan
berkomunikasi yang baik. Profesi seorang guru itu berperan penting di era ini,
maka ia harus menjadi role model bagi
peserta didiknya untuk memberikan contoh yang baik dalam berkomunikasi. Mampu
berkomunikasi disini diharapkan agar guru bisa dan berani menyampaikan gagasan
yang ada di fikirannya, Selain itu juga mampu menanggapi tanggapan orang lain
dengan baik. Mengingat bahwa Indonesia sudah memasuki pasar bebas yang disebut
MEA yakni Masyarakat Bebas Asean, adanya kondisi ini masyarakat dituntut untuk
mampu bersaing dengan negara lain. Salah satu faktor keberhasilannya adalah
mampu berkomunikasi dengan baik. Jika tidak, bisa kita bayangkan apa yang akan
terjadi pada masyarakat kita. Maka dari itu kemampuan berkomunikasi ini penting
untuk dimiliki guru abad 21.
Menjadi
warga negara yang baik, menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan UUD 1945
tentunya adalah kewajiban kita sebagi warga negara Indonesia. Jangan sampai era
millenial yang berkiblat pada budaya barat dan K-pop ini melunturkan nasionalisme. Maka penting bagi seorang guru
di abad 21 memiliki kemampuan citizenship.
Citizenship adalah kemampuan seseorang
untuk memiliki rasa setia terhadap negaranya, bisa menjalankan hak dan
kewajibanya terhadap negaranya. Ini penting sekali di tanamkan seorang guru
pada peserta didiknya. Ketika pembelajaran berlangsung, guru bisa menyelipkan materi
nasionalisme, cinta kepada tanah air dan bangsa pada peserta didik. Jika tidak,
budaya-budaya asing yang negatif akan masuk dengan mudah dan generasi
millennial akan mengikutinya. Hal ini sangat berbahaya, jika dibiarkan terjadi.
Penjajahan akan kembali menguasai negara kita, masyarakat akan kembali
sengsara. Sebelum semuanya terlambat, dunia pendidikan yang merupakan ujung
tombak kemajuan bangsa diharapkan mampu menyuntikkan sifat nasionalisme melalui
perantara seorang guru kepada peserta didiknya di masing-masing satuan
pendidikan. Sehingga generasi bangsa terselamatkan dan bangsa Indonesia akan
tetap merdeka di tangan warga negaranya yang kuat mencintainya.
Yang
ke enam adalah kemampuan literasi digital. Ini adalah kemampuan yang krusial
untuk dimiliki oleh seorang guru pendidikan dasar abad 21. Literasi digital
adalah sikap dan kemampuan seseorang dalam menggunakan teknologi digital dan
alat komunikasi untuk mengakses, mengolah, dan menganalisis informasi,
mendapatkan pengetahuan baru dan mampu berkomunikasi secara aktif dan efekti
dengan orang lain. Guru di era ini dituntut untuk menguasai teknologi yang
sedang berkembang. Tidak boleh ia putus asa, karena alasan tidak bisa
menggunakannya. Berbagai langkah sudah dilakukan oleh pemerintah untuk
mengadakan pelatihan kepada semua guru-guru yang ada di Indonesia untuk
meyambut abad 21 ini. Tujuannya agar para guru tidak ketinggalan zaman, dan
mengikuti pembaharuan. Jangan sampai peserta didik lebih canggih dan unggul
daripada gurunya. Ini adalah hal yang menakutkan bagi seorang guru. Maka penting
bagi seorang guru pendidikan dasar di abad 21 ini menguasai literasi digital.
Selain
kompetensi yang sudah dijabarkan diatas, untuk menjadi guru pendidikan dasar
yang unggul di abad 21 ini, guru harus bisa menjadi seorang motivator bagi
peserta didiknya. Tingkatan tertinggi guru professional adalah jika ia sudah
mampu membuat peserta didik termotivasi karenanya. Informasi yang mudah di
akses oleh peserta didik membuatnya berfikir bahwa tanpa guru mereka sudah bisa
mendapatkan ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan melalui internet. Jadi, apa
gunanya seorang guru di dalam kelas jika hanya memiliki kemampuan mentrasfer
ilmu pengetahuan saja. Namun pernyataan ini seharusnya tidak muncul jika
seorang guru sudah menajadi motivator bagi peserta didiknya.
Dari
paparan diatas, kiranya tidak mudah untuk menjadi guru professional di abad 21
ini. Namun bukan berarti harus menyerah tanpa berusaha terlebih dahulu. Jadi, marilah
kita terus belajar, menjadi seorang guru pembelajar sepanjang hayat. Ikuti semua
pembaharuan, dan jangan pernah menyerah. Teknologi informasi dan komunikasi
yang semakin canggih, generasi millenials, dan segala perubahannya di abad 21
ini jangan jadikan beban untuk tetap berjuang memperbaiki karakter generasi
bangsa. Pada intinya, kehadiran era digital abad 21 ini akan memberikan warna
dalam dunia pendidikan yang ada di Indonesia. Sehingga cita-cita menjadi guru
pendidikan dasar yang unggul bisa tercapai.

0 Response to "Essay Lolos OGN 2019, Jalan-jalan gratis ke Jakarta Guys."
Posting Komentar