Matoduwolo De Blog Le Bu Evi

Malam yang Syahdu

 Hingga selesai rujak manis terhidangkan dalam piring dan cobek diatas gelaran tikar, kami semua antusias menikmatinya. Seperti biasanya, bumbu-bumbu cerita selama menyantap rujak, kami saling bersenda gurau. Momen seperti ini tidak terjadi setiap hari. Hanya di waktu-waktu tertentu seperti liburan sekolah kali ini. Dan ini juga menjadi ajang bagi kami untuk beradu cerita. Kalau tadi tentang si Dimeg. Sekarang tentang si Haris yang kami juluki sebagi Tinunu. Ya sebutan Nunu bagi orang Gorontalo adalah panggilan kesayangan bagi anak-anak kecil atau balita. Kalau dalam bahasa jawa panggilan tersebut seperti "Nduk" bagi anak perempuan atau "Le/Tole" bagi anak laki-laki. Kami panggil demikian dikarenakan dia itu paling mudah diantara suamiku dan mas anam. Ditambah lagi badannya yang besar gimbul-gimbul. Sehingga kami suka membully nya dengan sebutan Ti Nunu baby berUANG. Meskipun begitu, dia tidak marah. Malah istrinya suka memanggilnya begitu. 


Tak ada habisnya cerita, si rujak manis pun hampir habis tak bersisa. Nampaknya cita rasa bumbu rujak dari tangan ahli telah menghipnotis kami untuk terus menyantapnya. Hingga tersadar waktu magrib telah tiba. Kami langsung lari bergantian antri masuk kamar mandi untuk membersihkan noda. Suasana menginap di Villa SP2 itu memang berbeda dengan lainnya. Karena kami tidak fokus dengan handpone kita masing-masing seperti biasanya.Sehingga suasana hangat dengan cerita dan segala aktivitasnya terasa lebih bermakna. 


Suasana malam haripun mulai tiba. Sengaja kami menyelesaikan ritual rohani kami terlebih dahulu sebelum berkumpul lagi dalam riuh malam yang membahana. Memang sudah rutinitas tuan rumah, yakni mbak ida dan mas anam, mereka adalah pasangan yang ahli agama diantara kami. Meskipun ada kami, mereka tak pernah absen untuk datang ke mesjid untuk ngajar ngaji anak-anak kampung SP2 dan menjalankan sholat berjamaah. Itulah kelebihan tuan rumah, bisa membaur dalam masyarakat dan bisa memberikan dampak positif bagi sekitarnya. Bagian ini yang belum bisa aku lakukan. Karena aku dan suamiku tinggalnya di perumahan. Jadi sulit bagi kami untuk bersosialisasi dengan tetangga rumah. Tapi tak apalah, setiap manusia mempunyai sisi positif nya sendiri-sendiri. 


Seusai sholat isya' jamaah di masjid, aku terkejut melihat mas anam membawa sound mini lengkap dengan microphonenya. Kukira mau apa, eh ternyata alat tersebut sudah dipesan oleh Haris untuk karaoke malam ini. Aduhhh.. Memang si haris ini doyan nyanyi. Sontak semua tertawa melihat kelakuan haris.Selanjutnya suamiku dan lainnya mulai menggelar tikar di depan rumah. Kami mau ber karaoke di depan rumah sambil menikmati kudapan yang telah ada. Sungguh, aku merasa seperti bebas dari segala pekerjaan yang menjerat ku tiap hari yang tak ada habisnya. Alhamdulillah kami bahagia dan kami bersyukur dengan kebersamaan yang hangat ini. Meskipun begitu, suara kami tidak akan terdengar oleh tetangga kanan kiri, karena memang rumahnya jauh dari tetangga. Jadi aman.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Malam yang Syahdu"

Posting Komentar