Matoduwolo De Blog Le Bu Evi

Refleksi Diri P5

 Seperti biasanya, setiap hari Jum'at dan sabtu di sekolah saya ada jadwal P5 (Proyek Profil Pelajar Pancasila) untuk kelas 7. Mengawali semester ini di tahun 2023, hari sabtu kemarin saya masuk kelas mengisi materi refleksi. Ada hal yang unik sehingga aku menuliskannya. 

Usia murid kelas 7 SMP itu beragam, mulai dari 12 s.d 14 tahun. Namun rata-rata usia mereka itu adalah 13 tahun. Murid dengan kondisi psikologis yang mengalami masa peralihan dari SD ke SMP. Sehingga tak jarang masih banyak ku temukan tingkah lucu ke kanak-kanakan yang sering ku jumpai baik di dalam maupun di luar kelas. 

Begitupun pada kegiatan kemarin, aku meminta mereka untuk menjawab beberapa pertanyaan refleksi terkait dengan proyek sebelumnya di semester 1. Kebetulan disekolah memilih tema Gaya Hidup Berkelanjutan dengan judul Sampahku adalah Tanggung Jawabku. Ada sekitar 6 pertanyaan yang ku berikan. Tujuannya adalah untuk melihat kembali hal-hal baik yang sudah dilakukan dan juga sebaliknya. Jika ada bagian dari aktivitas proyek yang masih belum berhasil, kita coba untuk menggali apa yang menjadi penyebabnya. Selain itu, merencanakan proyek yang ideal dimata murid juga masuk dalam kegiatan refleksi ini. 

Setelah selesai, saya minta mereka mengumpulkan lembaran refleksi tersebut. Tak lupa juga ku abadikan momen tersebut sebagai bahan dokumentasi. Aku pun mulai membaca hasil jawaban anak-anak. Beragam jawabannya. Maklumlah, keterampilan menulis mereka masih belum terasah dengan baik. Tapi tidak masalah, setidaknya mereka menjawabnya dengan jujur. Karena memang tidak ku bolehkan mencotek. 

Ku baca pelan-pelan lembar demi lembar. Dari situ aku menemukan jawaban satu anak yang begitu menggelitik jiwa untuk menarik simpul bibir mengembangkan senyum dan tawa. Bagaimana aku tidak tersenyum dan tertawa membaca jawaban yang begitu polosnya. Pertanyaanya kira-kira seperti ini "Apakah saya sudah berhasil mencapai tujuan belajar dalam proyek ini? Jika iya apa buktinya, jikapun tidak apa buktinya? " Nah kebetulan, sebelum kegiatan refleksi di mulai, aku menanyakan mana hasil proyek mereka. Ternyata ada di belakang kelas berupa pot bunga dan tempat duduk yang terbuat dari Ecobrick. Langsung saja aku meminta untuk membawanya ke depan kelas. Nah, karena itulah anak tersebut menjawab pertanyaan refleksi diatas dengan jawaban ini " Berhasil, kami sudah membuat pot bunga, buktinya pot bunganya ada di samping ibu yang kami buat di proyek kemarin". Sontak aku langsung tersenyum. Memang betul, pot tersebut ada disampingku saat memberikan refleksi kemarin😄. 

Tidak hanya itu ada lagi jawaban si anak yang juga membuat saya tertawa karena kalau dipikir itu memang realita yang dihadapinya. Pertanyaannya begini " Apa saja tantangan yang saya alami? " Dia jawabnya begini " Tantangan yang saya hadapi adalah menggunting kertas, banyak nyamuk yang menggigit saya, lalu ada teman yang yang berkelahi  tidak kompak". Aku juga tak tahan untuk tidak mengembangkan senyuman di bibir. Menurutku jawaban anak ini unik dan memang jujur dari dalam hatinya. Dia juga tidak menyontek temannya. Benar-benar apa yang dialaminya selama melaksanakan tugas proyek bersama kelompoknya. Aku tertarik pada jawaban "banyak nyamuk yang menggigit saya". Memang benar, pada proyek kemarin anak-anak dilatih untuk bisa menyelesaikan masalah sampah yang ada di lingkungan sekolah. Akhirnya disepakati untuk membuat "Ecobrick". Dimana medianya adalah memang sampah plastik yang didaur ulang menjadi barang yang lebih berguna. Jadi anak-anak mengumpulkan bekas botol air mineral. Mengumpulkan sampah plastik yang ada di sekitar sekolah. Mungkin selama proses pencarian sampah anak tadi di gigit nyamuk😅. Karena memang sampah kotor. Selanjutnya, sampah-sampah yang sudah dikumpulkan tadi di cuci bersih dan dikeringkan. Jika sudah benar-benar kering barulah mereka menggunting sampah-sampah plastik tersebut menjadi kecil-kecil. Selanjutnya dimasukkan ke dalam botol air mineral. Nah kumpulan botol yang berisi potongan-potongan sampah plastik tadi dikumpulkan dan dijadikan pot bunga dan tempat duduk. 

Maka dari itu, butuh refleksi di akhir kegiatan agar di proyek selanjutnya bisa lebih baik. Masih dalam tahap belajar. Khusunya dalam pelibatan murid dalam merencanakan proyek. Ya, kemarin kami masih belum paham. Fokus kegiatan P5 masih pada produknya saja, tidak melibatkan murid dalam  merencanakan proyek. Padahal ternyata untuk menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid, harus ada pelibatan murid juga. Kegiatan proyek juga bukan berfokus pada produk yang dihasilkan. Namun lebih kepada prosesnya, bagaimana anak bisa berlatih menyampaikan pendapat, melihat permasalahan yang ada di sekitar dan menemukan solusinya. Dalam proyek juga anak-anak dilatih bekerja sama, berempati, mampu bernalar kritis dan lain sebagainya. Intinya mereka bisa memiliki karakter yang ada di profil pelajar pancasila. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Refleksi Diri P5"

Posting Komentar