Project Profil Tradisi Walimah Gorontalo dengan Teknik "Misi Redikan" Integrasi dengan Teknologi
Pendidikan di Indonesia sudah mulai berubah semenjak adanya kurikulum merdeka. Setiap satuan pendidikan yang ada di negeri ini berbondong-bondong menyajikan pendidikan yang berpusat pada murid. Salah satu tanda terlaksananya kurikulum ini adalah adanya proyek penguatan profil pelajar pancasila. Kegiatan yang bisa disebut dengan proyek profil ini adalah kegiatan kokurikuler yang berbasis proyek untuk menguatkan karakter murid yang sesuai dengan profil pelajar pancasila. Di setiap fasenya para murid akan mempelajari tema-tema tertentu yang sudah ditetapkan oleh Kemendikbudristek. Pelaksanaanya dijalankan secara terpisah dari mata pelajaran. Pengajarannya dilakukan secara kolaboratif oleh semua guru yang ditunjuk sebagai fasilitator proyek. Proyek profil ini memiliki prinsip yaitu holistik, kontekstual, berpusat pada murid, dan eksploratif.
Di sekolah kami, SMP Negeri 2 Dulupi sudah memasuki tahun kedua mengimplementasikan kurikulum merdeka jalur mandiri berbagi. Sudah ada 4 tema proyek profil yang sudah kami jalankan, yaitu demokrasi, gaya hidup berkelanjutan, kewirausahaan, dan kearifan lokal. Pada setiap pelaksanaannya kami terus melakukan refleksi untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan amanat kemendikbudristek. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya bagikan praktik baik pelaksanaan proyek profil disekolah kami pada tema kearifan lokal.
Seperti pada tahun sebelumnya di tahun ajaran 2023/2024 ini saya mendapatkan amanat lagi menjadi koordinator proyek penguatan profil pelajar pancasila. Dalam mengemban amanat ini tentu banyak hal yang harus saya siapkan. Seperti membentuk tim fasilitator project, membuat modul, membuat jadwal project dan lainnya.
Pada project pertama kami mengambil tema kearifan lokal. Hal ini dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan kepala sekolah, guru dan murid. Sedangkan topik yang kami angkat adalah tradisi Walimah di Gorontalo. Hal ini dipilih berdasarkan hasil observasi lingkungan bahwa tradisi Walimah ini sebenarnya sudah familiar dengan kehidupan masyarakat Gorontalo. Karena setiap tahun pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu diperingati. Namun yang menjadi masalah adalah tradisi ini hanya dilakukan oleh orang yang sudah tua saja. Berdasarkan hasil asesmen awal juga ternyata anak-anak belum paham bagaimana pelaksanaan tradisi walimah yang sesungguhnya. Merujuk pada beberapa situasi tersebut diatas maka saya bersama tim sepakat untuk melaksanakan project penguatan profil pelajar pancasila kali ini dengan tema kearifan lokal tradisi Walimah di Gorontalo.
Tantangan
Tantangan yang kami hadapi dalam melaksanakan project profil ini adalah, yang pertama dari pihak guru. Sebagian besar guru di sekolah beranggapan bahwa project profil itu harus menghasilkan produk. Mereka tidak memperhatikan proses pembelajarannya. Yang mereka nilai hanya keberhasilan murid dalam membuat produk. Jika murid gagal membuat suatu produk berarti proyek profil dianggap gagal. Yang kedua guru yang bertugas sebagai fasilitator proyek kurang memahami tupoksinya, sehingga muncul rasa kurang tanggung jawab.
Tantangan berikutnya dari pihak murid. Sebagian besar murid kurang berani untuk tampil berbicara di depan umum. Mereka masih malu-malu dan kesulitan untuk hanya sekedar menjawab pertanyaan apalagi menyampaikan pendapat.
Tantangan selanjutnya adalah kemampuan bernalar kritis murid belum membudaya. Hal ini terlihat karena murid-murid di kelas 7 dan 8 banyak yang tidak menyampaikan pertanyaan selama proses pembelajaran berlangsung.
Beberapa tantangan-tantangan diatas itulah yang menjadi trigger saya untuk selalu melakukan perbaikan di setiap tema proyek profil yang telah dilaksanakan. Maka dari itu pada tema kearifan lokal dengan topik tradisi Walimah di Gorontalo kami mencoba memperbaikinya dengan pendekatan dari hati dan teknik “Misi Redikan” yaitu Modali, Seleksi, Realiasikan dan Tradisikan.
Langkah pertama dalam mengatasi tantangan dari pihak guru, saya gunakan pendekatan komunikasi dari hati ke hati. Mengajak rekan guru berdiskusi dan berkolaborasi, mengikuti webinar dan belajar melalui aplikasi PMM terkait topik-topik proyek penguatan profil pelajar pancasila. Kemudian dengan arahan kepala sekolah kami membentuk tim proyek profil, dimana para rekan guru semua mendapatkan bagian untuk menjadi fasilitator yang tersebar di kelas 7 dan 8.
Langkah yang kedua adalah membuat jadwal proyek yang rinci. Belajar dari pengalaman sebelumnya, bahwa jadwal yang dibuat terlalu umum sehingga para fasilitator kurang bertanggung jawab. Ditambah lagi mereka masih minim pengetahuannya tentang proyek penguatan profil pelajar pancasila. Oleh karena itu, pada tema kearifan lokal ini saya buatkan jadwal proyek yang lebih rinci. Disitu saya cantumkan hari, tanggal, waktu atau jam, kegiatan atau materi, nama fasilitator, dan bahan atau tugas murid. Dengan begitu akhirnya para guru yang menjadi fasilitator memiliki rasa tanggung jawab untuk masuk kelas mendampingi murid-murid belajar.
Langkah ketiga yaitu implementasi proyek profil pelajar pancasila di kelas. Pada awal pertemuan kami melakukan orientasi dan asesmen awal. Kegiatan orientasi ini dilakukan untuk mengenalkan murid terkait tema dan topik proyek profil yang sudah disepakati pada kegiatan refleksi sebelumnya. Murid diberikan gambaran tentang perjalanan tema proyek yang akan dijalankan. Sehingga mereka bisa mempersiapkan diri untuk mengikuti proses belajar di setiap tahapanya.
Setelah kegiatan orientasi, di hari berikutnya kami melaksanakan asesmen awal murid. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pengetahuan awal murid terkait tradisi Walimah. Pada kegiatan asesmen awal saya menggunakan aplikasi Quizizz papermode. Solusi bagi murid yang tidak memiliki handphone dan data internet. Murid tinggal memilih jawaban dengan cara memutar kertas QR code yang dibagikan sesuai dengan jawaban yang dipilih. Guru tinggal scan QR code, jawaban murid akan terlihat di Quizizz versi web pada layar proyektor. Murid-murid senang sekali dengan model asesmen tersebut. Mereka tidak merasa bahwa ini adalah tes. Dari kegiatan ini hasil menunjukkan bahwa pemahaman murid tentang tradisi ini masih kurang. Oleh karena itulah murid diberikan pengalaman belajar melalui kegiatan proyek profil ini.
Setelah kegiatan tersebut, kami juga melakukan peminatan terhadap ragam tradisi dalam prosesi walimah yang ada di Gorontalo. Dari situ juga kami mendapatkan informasi bahwa murid-murid memiliki minat yang beragam dalam prosesi tradisi walimah ini seperti pada tolangga, toyopo, dikili, bilindi dan jenis-jenis kue. Dan minat minat tersebutlah yang kami jadikan dasar dalam membentuk kelompok belajar di kelas proyek profil.
Setelah rangkaian kegiatan asesmen awal selesai, kami mulai beraksi dengan teknik "Misi Redikan". Teknik ini memiliki kepanjangan Modali, Seleksi, Realisasikan dan Tradisikan. Tahapan-tahapan tersebut memudahkan kami dalam melaksanakan kegiatan proyek penguatan profil pelajar pancasila. Untuk tahap pertama yaitu Modali. Para murid diberikan bekal untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang tradisi Walimah yang ada di Gorontalo. Mulai dari mencari informasi melalui YouTube, membaca artikel di internet, dan membaca buku. Tidak hanya itu saja kami juga memberikan pengalaman belajar murid dengan melakukan kegiatan wawancara kepada masyarakat sekitar. Namun sebelumnya, para fasilitator membimbing murid-murid untuk membuat pertanyaan kritis yang akan digunakan sebagai panduan wawancara dengan masyarakat sekitar sekolah. Dengan didampingi para fasilitator, masing-masing kelompok keluar kelas dan menyebar ke kampung di sekitar sekolah untuk melakukan wawancara dengan masyarakat. Setelah selesai mereka kembali ke sekolah untuk menyampaikan pengalaman dan informasi tentang tradisi walimah yang telah mereka dapatkan dari masyarakat. Kegiatan ini menjadi trigger murid untuk memiliki sikap bernalar kritis.
Di minggu berikutnya, pada tahap Modali ini kami juga mengundang narasumber dari masyarakat yang paham tentang tradisi walimah khususnya pembuatan toyopo dan pembacaan dikili untuk menjadi narasumber. Para murid sangat senang karena kegiatan ini tidak pernah dilakukan sebelumnya. Mereka menyimak dengan seksama, kemudian ada proses tanya jawab yang masih dalam rangkaian menggali informasi tentang tradisi Walimah di Gorontalo. Selanjutnya mereka praktik membaca Dikili dan juga membuat toyopo. Toyopo ini adalah wadah nasi kuning atau bilindi yang terbuat dari anyaman janur kelapa yang biasanya digunakan pada tradisi Walimah. Kegiatan ini mengasah murid untuk meningkatkan krativitasnya. Melalui kegiatan tanya jawab juga memantik murid untuk bernalar kritis. Tentunya ini sesuai dengan karakter yang diamanatkan pada profil pelajar Pancasila.
Tahap kedua dari teknik "Misi Redikan" adalah Seleksi. Setelah mendapatkan informasi dari berbagai sumber tentang tradisi Walimah, para murid di masing-masing kelompok membuat rencana-rencana aksi nyata dalam rangka melestarikan tradisi tersebut. Pada kegiatan ini murid membuat peta konsep, diskusi kritis dengan menggunakan aplikasi google jamboard. Murid memanfaatkan akun belajarnya untuk masuk ke aplikasi ini. Kemudian saya memintanya untuk menuangkan ide dan gagasannya pada sticky note online. Setelah mendapatkan kesepakatan terkait aksi nyata pelestarian, masing-masing kelompok mempresentasikan. Dalam proses belajarnya, fasilitator mendampingi murid untuk belajar mengobservasi situasi, menyampaikan ide atau pendapat, mencari solusi, dan belajar menghargai perbedaan pendapat orang lain.
Tahap ketiga yaitu realisasikan. Pada tahap ini murid melakukan kampanye aksi nyata dan pameran hasil karya. Namun sebelum pelaksanaannya para murid di masing-masing kelompok menyiapkan segala hal yang diperlukan dalam prosesi tersebut. Seperti membuat kue khas walimah yakni kolombengi, membuat nasi kuning dan bilindi. Untuk kegiatan ini kami berkolaborasi dengan orang tua murid. Sedangkan kelompok lain ada yang menyiapkan membuat tolangga, toyopo, dan berlatih dikili. Para murid melakukannya dengan suka cita. Karena dari proses belajarnya selama sekitar 3 bulan yakni Juli, Agustus, September ternyata mereka bisa belajar makna dari setiap tradisi yang ada di Walimah.
Hingga tiba waktunya gelar karya yang merupakan bentuk dari ide-ide yang mereka tuangkan dalam diskusi. Tahap ini dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Masing-masing kelompok menampilkan hasil karyanya berupa tolangga, toyopo, bilindi, ragam khas kue dan dikili yang telah disiapkan sebelumnya. Tidak hanya itu mereka juga melakukan kampanye aksi nyatanya. Pada proses ini mereka menyampaikan ide, strategi pelestarian tradisi Walimah serta solusi dari hambatan yang mungkin terjadi. Kegiatan dilakukan di aula sekolah, dengan disaksikan oleh kepala sekolah, guru-guru, dan seluruh murid. Terjadi tanya jawab sehingga mereka mendapatkan umpan balik dari gagasan yang disampaikan.
Tahap terakhir dari rangkaian Misi Redikan adalah Tradisikan. Disini kami mendampingi murid untuk merefleksi hasil kegiatan gelar karya yang telah dilaksanakan. Seperti pada proses belajar sebelumnya, saya memanfaatkan google jamboard untuk membantu mereka merefleksikan hasil kegiatan sekreatif mungkin. Selain itu masing-masing kelompok juga membuat rencana tindak lanjut dari aksi nyata yang telah dilakukan. Mereka juga diminta memaparkan bagaimana aksi berkebinekaan global dilakukan selama melakukan pelestarian tradisi sendiri yakni Walimah. Melalui penyebaran pemahaman kepada masyarakat di sekitar lingkungan mereka.
Dari strategi yang saya lakukan pada pelaksanaan proyek profil tersebut diperoleh beberapa hasil yang mengagumkan. Yang pertama adalah murid semakin mencintai keragaman budaya yang ada di Indonesia. Oleh karenanya mereka memiliki tekad yang kuat untuk melestarikannya. Yang kedua adalah kemampuan murid dalam menyampaikan pertanyaan selama proses belajar proyek profil sudah meningkat. Karena dalam proses belajarnya fasilitator mewajibkan murid untuk menyampaikan pertanyaan pada setiap pertemuannya. Yang ketiga adalah murid mulai terbiasa bernalar kritis. Hal ini dibuktikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam menggali informasi mengenai tradisi Walimah yang ada di Gorontalo. Mereka juga sudah mulai berani tampil berbicara di depan umum. Karena pada setiap pertemuannya para fasilitator membiasakan mereka untuk melakukan presentasi di masing-masing kelompok. Hasil yang terakhir adalah para guru juga sudah tidak lagi miskonsepsi tentang pelaksanaan proyek profil. Mereka sudah berfokus dalam pembentukan karakter murid sesuai profil pelajar pancasila. Selama proses belajar para fasilitator sudah menyiapkan rubrik penilaian untuk mengamati karakter yang sesuai dengan tujuan proyek ini.
Praktik baik proyek profil ini memberikan dampak positif bagi saya pribadi dan pihak-pihak yang terlibat. Saya menyadari bahwa murid perlu dilibatkan dalam setiap proses belajarnya agar mereka terbiasa menyampaikan pendapat, menuangkan ide, gagasan dan mengajukan pertanyaan. Bagi rekan guru, mereka semakin paham bahwa P5 itu yang dinilai adalah prosesnya berdasarkan dimensi, elemen, dan sub elemen yang disepakati untuk dikembangkan dalam rangka membentuk karakter murid berdasarkan profil pelajar pancasila. Bagi semua tim proyek profil seperti kepala sekolah, koordinator proyek, fasilitator, murid, orang tua murid, dan tokoh masyarakat perlu adanya kolaborasi untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Dan tentunya sesuai dengan tujuan proyek profil pelajar pancasila yang sudah disepakati bersama.
Proyek penguatan profil pelajar pancasila sudah pasti membawa perubahan bagi pendidikan di Indonesia, khususnya di sekolah kami SMPN 2 Dulupi. Kegiatan ini menjadi pemicu para pendidik di sekolah untuk terus meningkatkan kapasitasnya dalam memberikan pelayanan pembelajaran yang berpihak pada murid. Melalui praktik baik proyek profil kearifan lokal tradisi walimah di Gorontalo dengan menerapkan teknik Misi Redikan ini menjadi pengalaman belajar bagi kami. Bagaimana melayani murid sesuai kebutuhannya, mendampingi murid berproses menjadi murid yang berkebinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif. Dan tentunya harus dilaksanakan secara kolaboratif untuk mencapai tujuan yakni mewujudkan lulusan yang memiliki karakter sesuai dengan profil pelajar pancasila.





Seru juga yaa klo kearifan loka bisa masuk dalam proses anak belajar di sekolah
BalasHapus